Senin, 07 Juli 2008

kuliner

berdasar trade mark yg sudah me-nasional (mungkin jg internasional)
Angkringan Lik Man (lbh dikenal sbg angkringan kopi joss) - loc : utara tembok stasiun Tugu, deket pertigaan
Warung Nganggo Sabar Lik Adi - loc : tusuk satenya pertigaan Kotagede
SGPC Bu Wiryo 1959 - loc : Klebengan, Selokan Mataram Gejayan
Gudeg Yu Djum - loc : yg asli di Plengkung Wijilan, cabangnya di mBarek Jl Kaliurang,
Ayam Suharti - loc : yg Bu Harti di Jl. Solo sebelum belokan ke BBS, yg palsu (mantan suami bu Harti) di Gedong Kuning
Sate Samirono - loc : yg asli depan UNY/IKIP Karangmalang, cabangnya byk ga apal
Cak Koting - loc : trotoar depan ex bioskop Mataram
Soto Al Barokah Pak Sholeh - loc : Tegalrejo
RM Tojoyo - loc : Jl solo deretan depan LPP (Sebelum LPP)
Bang Udin - loc : depan SMP 1/seberang RS Panti Rapih
Lotek Teteg - timur perempatan bawah jalan layang Lempuyangan

Desa Wisata Kerajinan Kulit MANDING

Manding is located on Parangtritis, approximately 3 (three) kilometers on the eastward of Bantul.

This place has so many leather craftsmen and shops selling leather products such as javkets, shoes, bag, belt aswell as varied accessories made of leather like piture frames and key hanger.

Manding, as one of the center for leather craft industry in Bantul, has more or less 40 (fourty) traditional leather industries that involving hundreds of workers.

Parangtritis, the Most Popular Beach in Yogyakarta

Parangtritis, the Most Popular Beach in Yogyakarta

In addition to being the most popular beach in Yogyakarta, Parangtritis is worth visiting since it is closely related to such tourism objects as the Sultan Palace in Yogyakarta city, Parangkusumo Beach to the west of it, and the Merapi area at the north part of Yogyakarta. Located around 27 kilometers from the city center, Parangtritis Beach is also part of the Queen of South's authority.

UPACARA BEKTI PERTIWI PISUNGSUNG JALADRI

UPACARA BEKTI PERTIWI PISUNGSUNG JALADRI
Pekan ini masyarakat Pantai Parangtritis memulai ritual Upacara Bekti Pisungsung Jaladri. Upacara ini dilaksanakan 2 tahap, yaitu Upacara Bekti Pertiwi, yang dilain tempat disebut “majemuk/rasulan”. Upacara ini dimulai pada hari Senin Pon – Selasa Wage setelah warga memanen padi. Tahun ini jatuh pada hari Selasa Wage tanggal 10 Juni 2008, dimulai pada pukul 09.00 – 11.00 wib diadakan kenduri massal yang merupakan wujud upacara Bekti Pertiwi (syukur atas hasil pertanian yang melimpah). Setelah pulang dari kenduri, warga menyiapkan Upacara Pisungsung Jaladri (prosesi melarung sesaji ke laut selatan) kira-kira pukul 14.00 wib. Tujuan dari upacara ini adalah memohon kepada Tuhan YME agar warga dan pengunjung Parangtritis selamat dalam berwisata serta sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan karunia-Nya.


Demikian beberapa atraksi wisata di Kabupaten Bantul yang terselenggara atas kerjasama masyarakat dan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Bantul. Atraksi tersebut memperkaya khazanah budaya kita, sehingga dengan menyaksikan acara tersebut diharapakan dapat mempersatukan kita sebagai sesama anak bangsa, menjalin silaturahmi dan persaudaraan.

ATRAKSI WISATA BULAN JUNI 2008

ATRAKSI WISATA BULAN JUNI 2008

1.MERTI DUSUN KREBET, SENDANGSARI, PAJANGAN
Merupakan acara yang telah menjadi tradisi masyarakat di Dusun Krebet. Bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang dilimpahkan. Masyarakat Krebet yang tinggal diperbukitan wilayah Kecamatan Pajangan yang kurang subur, setelah menggeluti kerajinan Batik Kayu lambat laun perekonomiannya meningkat. Hal demikian patut disyukuri sehingga upacara merti dusun tetap dilestarikan. Dilaksanakan setiap Bulan Jumadil Akhir bertepatan dengan Sabtu Legi, 07 Juni 2008.
Rangkaian kegiatan Merti Dusun Krebet antara lain :
a.Tirakatan di Makan Leluhur dilanjutkan Pengajian di Pendopo Kasarosan dengan pembicara Bapak Hendri Sutopo.
Hari: Kamis
Tanggal : 05 Juni 2008
b.Pembuatan rancangan gunungan, membuat panjang ilang, sesaji buangan, pembuatan gunungan beserta pengisian uborampe dilanjutkan malam kesenian.
Hari: Jumat
Tanggal : 06 Juni 2008
c.Pelaksanaan Bersih / Merti Dusun.
Hari: Sabtu
Tanggal : 07 Juni 2008
Dengan susunan acara sebagai berikut :
1.Warga berkumpul : 12.00
2.Pembukaan : 12.15 – 12.30
3.Sambutan : 12.30 – 12.45
4.Prosesi arak-arakan : 12.45 – 13.15
5.Buangan : 13.15 – 13.30
6.Perebutan gunungan: 13.30 – 14.00
7.Pesta bersama : 14.00 – 14.30
8.Penutup : 14.30
9.Pementasan kesenian Rewe-rewe: 14.30 – 16.30
10.Pementasan Wayang Kulit : 20.00 – pagi

KEADAAN ALAM

KEADAAN ALAM
Kabupaten Bantul terletak di sebelah Selatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berbatasan dengan :
Sebelah Utara: Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Timur : Kabupaten Gunung Kidul
Sebelah Barat: Kabupaten Kulon Progo

Kabupaten Bantul terletak antara 07° 44' 04" - 08° 00' 27" Lintang Selatan dan 110° 12' 34" - 110° 31' 08" Bujur Timur.

Luas wilayah Kabupaten Bantul 508,85 Km2 (15,90 5 dari Luas wilayah Propinsi DIY) dengan topografi sebagai dataran rendah 140% dan lebih dari separonya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur, secara garis besar terdiri dari :
Bagian Barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari Utara ke Selatan seluas 89,86 km2 (17,73 % dari seluruh wilayah).
Bagian Tengah, adalah daerah datar dan landai merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 %).
Bagian Timur, adalah daerah yang landai, miring dan terjal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian Barat, seluas 206,05 km2 (40,65%).
Bagian Selatan, adalah sebenarnya merupakan bagian dari daerah bagian Tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikir berlagun, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden dan Kretek.

Letak Geografis

Letak Geografis

Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari lima daerah kabupaten/kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Apabila dilihat bentang alamnya secara makro, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam tersebut relatif membujur dari utara ke selatan. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07°44'04" ‑ 08°00'27" Lintang Selatan dan 110°12'34" - 110°31'08" Bujur Timur. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, di sebelah utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.

Obyek Wisata

Obyek Wisata

Kabupaten Bantul mempunyai potensi obyek wisata yang cukup besar, yang meliputi obyek wisata alam, wisata budaya/sejarah, pendidikan, taman hiburan dan sentra industri kerajinan. Dengan keanekaragaman potensi wisata tersebut diharapkan Kabupaten Bantul dapat secara optimal mendukung pengembangan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, dimana pada tahun 1996 Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan ke-3 dalam hal kunjungan wisatawan mancanegara. Tabel 42 menyajikan potensi obyek wisata di Kabupaten Bantul serta jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung, pada beberapa obyek tertentu data pengunjung belum tersedia.

Pengelolaan obyek wisata secara profesional akan mendorong tumbuh kembangnya industri pariwisata secara menyeluruh yang diharapkan dapat menggerakkan kegiatan perekonomian masyarakat, memperluas dan memeratakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, mendukung perolehan Pendapatan Asli Daerah secara optimal, serta membawa citra daerah di mata masyarakat di luar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Minggu, 29 Juni 2008

PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI ERA OTONOMI DAERAH

PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI ERA OTONOMI DAERAH

Salah satu tulang punggung penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada era otonomi daerah adalah sektor kepariwisataan, mengingat sektor inilah yang sangat potensial menghasilkan pendapatan yang besar karena sifatnya yang multisektoral dan multi-effects. Dengan berkembangnya sektor kepariwisataan akan mendukung income generating dari pelbagai sisi mulai dari retribusi masuk obyek wisata, pajak hotel dan restoran, perijinan usaha pariwisata, di samping juga menyerap tenaga kerja baik dari sektor formal maupun informal. Mengingat demikian strategisnya posisi pengembangan sektor pariwisata maka developmental-planningnya sangat penting untuk dipikirkan.

Bantul adalah salah satu kabupaten di DI Jogjakarta yang memiliki potensi wisata cukup berlimpah dan bervariasi. Obyek wisata di Bantul dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu wisata alam serta wisata budaya & sejarah. Artikel ini akan merupakan urun rembug bagi Pemerintah Kabupaten Bantul, khususnya dalam mengelola potensi kepariwisataan sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan formulasi kebijakan yang akan ditempuh nantinya, serta peluang dan tantangan apa yang menghadang.

Untuk menempuh kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan tentunya sangat penting untuk mengetahui peta kondisi kepariwisataan Bantul yang ada saat ini. Oleh sebab itu perlu dibahas beberapa faktor eksternal, internal, peluang dan hambatan, sehingga memudahkan policy makers memformulasikan kebijakannya.

Tahap evaluasi diri adalah yang pertama perlu dilakukan untuk memetakan problematika yang dihadapi Bantul dalam bidang kepariwisataan dari lingkungan internal. Dari perspektif publik tampak bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu dipecahkan berkaitan dengan kondisi internal pengembangan kepariwisataan di Bantul, yaitu: Pertama, Implementasi kebijakan pengembangan obyek wisata yang belum optimal dilakukan, kendati potensi cukup tersedia. Kedua, strategi promosi wisata yang cenderung masih konvensional. Ketiga, pelayanan dalam arti luas kepada wisatawan yang masih kurang terutama dalam pengamalan Sapta Pesona dari stake holders di bidang pariwisata khususnya. Keempat, masih relatif lemahnya koordinasi antara pelaku pariwisata, Pemerintah Daerah dan pihak terkait.

Tahap berikutnya adalah evaluasi faktor eksternal yang menunjukkan bahwa seiring belum pulihnya citra negatif negara kita di mata dunia internasional, khususnya dalam aspek keamanan dan kenyamanan, dunia pariwisata nasional mengalami penurunan wisatawan internasional yang cukup substantif, meskipun pada tataran wisatawan domestik cenderung tak terpengaruh. Wacana keamanan sering merupakan hambatan potensial kedatangan wisman.

Setelah mengetahui peta kelemahan dari faktor eksternal dan internal tersebut, maka perlu pula dirumuskan tentang peluang dan ancaman yang potensial muncul. Adapun sejumlah peluang yang ada antara lain: Pertama, kebijakan Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32/2004 membuka peluang bagi Daerah untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya. Di samping itu, peluang kerjasama antar daerah maupun dengan luar negeri pun dimungkinkan sebatas tidak mengganggu integrasi nasional. Dengan demikian sebenarnya Daerah memiliki kesempatan terbuka untuk mengembangkan sektor kepariwisataan, mulai dari perencanaan, penetapan peraturan kepariwisataan sesuai dengan potensi diri serta penetapan perjanjian kerjasama dengan daerah/kota di dalam negeri bahkan dengan kota lain di luar negeri. Sister city adalah salah satu bentuk perwujudannya. Namun yang paling utama adalah perlu penyiapan Sumberdaya manusia yang handal untuk mewujudkan kerjasama tersebut.
Kedua, posisi DI Jogjakarta sebagai daerah tujuan wisata yang cukup dominan selain Bali dan Lombok jelas sangat menguntungkan untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya dan memperlama durasi tinggalnya (length of stay) di Bantul.

Ketiga, sebagai kabupaten yang dikelilingi sejumlah Perguruan Tinggi besar maka ketersediaan lembaga dan pakar pemerhati pariwisata cukup banyak, sehingga peluang kerjasama dengan mereka guna memikirkan pengembangan pariwisata Bantul sangat terbuka lebar.
Keempat, Bantul memiliki variasi obyek wisata yang beragam mulai dari obyek wisata alam dan budaya & sejarah yang sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan.

Sementara itu, tantangan utama yang muncul adalah potensi persaingan yang semakin terbuka dengan Daerah lain pada era global ini untuk memperebutkan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara yang relatif tak terpengaruh krisis. Selain itu lama tinggal wisatawan di Yogyakarta yang umumnya 1,8 hari adalah suatu tantangan tersendiri untuk dapat memperpanjangnya. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan strategi untuk mengembangkan kepariwisataan di Bantul agar dapat bersaing dengan Daerah lain.

Ada beberapa pemikiran yang dapat dijadikan pertimbangan guna memajukan kepariwisataan di Bantul. Pertama, berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan pariwisata yang belum optimal, perlu ditindaklanjuti dengan studi pengembangan obyek wisata yang pernah dilakukan oleh Puspar UGM dan lembaga-lembaga lain melalui tindakan nyata. Dengan kata lain, laporan penelitian yang sudah ada jangan hanya menjadi pengisi rak buku pada Instansi terkait, namun perlu dioperasionalisasikan.

Kedua, berkaitan dengan masih konvesionalnya cara-cara promosi yang dilakukan selama ini seperti penerbitan bahan cetak baik booklet maupun leaflet, promosi tatap muka baik dengan model pameran maupun travel dialogue serta promosi melalui media massa, ada baiknya mengikuti kemajuan jaman dengan membuka situs pariwisata Bantul di dunia maya/internet tanpa mengesampingkan cara-cara sebelumnya.

Di era good governance sekarang ini, model pelayanan publik yang kurang nyaman, bertele-tele, lamban apalagi dengan muka masam, sudah selayaknya ditinggalkan. Oleh karena itu menjadikan Sapta Pesona pariwisata ( aman, indah, tertib, bersih, ramah-tamah dan kenangan) sebagai pedoman insan pelaku pariwisata harus dimulai dari keteladanan para birokratnya.

Selanjutnya realitas hambatan eksternal seperti belum pulihnya citra keamanan negara kita, memang sangat memprihatinkan. Akan tetapi sebagai Daerah Tujuan Wisata yang relatif aman, Jogja terbukti sukses menjadi tuan rumah event besar seperti ATF (ASEAN Tourism Forum), serta tuan rumah parade terbang dengan mini trike di Parangtritis. Oleh karenanya, Bantul yang sudah memiliki potensi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) yang representatif setidaknya dapat menggandeng pihak ketiga untuk mengadakan event besar semacam itu.

Berikutnya, untuk mengatasi menyusutnya kunjungan wisnus setelah terjadinya Gempa Bumi 27 Mei, maka perlu diversifikasi produk wisata untuk tetap menjaring kunjungan wisnus tersebut. Misalnya dengan mengadakan event yang menyorot perhatian publik khususnya anak muda di obyek wisata tersebut seperti parade musik, moto-cross dan sebagainya.

Guna menjawab dua tantangan besar yaitu semakin terbukanya persaingan antar daerah dalam menarik kunjungan wisatawan, serta memperpanjang lama tinggal wisatawan, maka perlu ditempuh beberapa upaya. Di jaman yang serba transparan sekarang ini sebaiknya bekerjasama dalam rangka kompetisi sehat. Langkah pertama, rumuskan rambu-rambu, aturan dan bentuk kerjasama yang disepakati bersama, kemudian tuangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani Kepala Daerah. Dalam hal ini penulis salut dengan telah masuknya Bantul dalam kelompok Java Promo (Kerjasama Pariwisata antara 14 Kab/Kota di Jawa Tengah-DIY). Namun demikian perlu langkah-langkah konkrit untuk menyikapi permasalahan yang muncul di obyek wisata yang terletak di perbatasan antar kabupaten/kota.

Selanjutnya, untuk mengatasi obyek wisata yang tipikalnya sama, bisa dilakukan upaya pencarian citra/image baru semisal dengan Parangtritis dengan citra baru sebagai daerah wisata kuliner masakan laut yang murah dan higienis. Kemudian juga perlu diperbaiki dan dilengkapi fasilitas obyek wisata serta akses menuju obyek wisata.

Isu memperpanjang lama tinggal wisatawan adalah isu klise yang selalu muncul apabila kita membicarakan pariwisata Jogja umumnya. Namun demikian selalu diupayakan terobosan-terobosan baru untuk mendongkrak lama tinggal tersebut. Bagi beberapa kalangan, singkatnya lama tinggal tidak masalah, karena mereka mengais rejeki dari belanja wisatawan. Hal ini tidak berlaku bagi kalangan perhotelan, mereka tentu berteriak tidak tinggal diam. Oleh karenanya perlu kesepahaman dari berbagai pihak untuk mewujudkan tujuan ideal bersama. Berbagai kalangan perlu duduk bersama membicarakan agenda pariwisata yang krusial. Tentu saja butuh kemauan dan jiwa besar untuk berada pada posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Terakhir, yang perlu disadari bersama adalah bahwa kualitas pelayanan kepariwisataan yang baik kepada wisatawan akan memberikan kenangan yang tak terlupakan dan menjadi sarana promosi yang paling efektif melalui komunikasi interpersonal untuk mendongkrak jumlah wisatawan di masa mendatang.

Akhirnya, harus disadari bersama seperti di awal tulisan ini bahwa sektor pariwisata adalah multisektoral dan multi-efek. Oleh karena itu segala permasalahan sektor ini tidak dapat berdiri atau instansional, melainkan harus lintas sektoral, sebab hakekat kegiatan pariwisata yang sebenarnya adalah kegiatan lintas budaya, wilayah, lintas ras bahkan agama. Dengan adanya pemahaman yang demikian tersebut akan memudahkan untuk duduk dalam satu lingkaran untuk membahas peluang dan tantangan di Era Otonomi Daerah. Semoga Kabupaten Bantul dapat lebih arif dalam menyikapi persoalan yang timbul di seputar dunia pariwisata.

Penulis :
Istighfaroh
Alumnus D3 Pariwisata UGM,
Peminat masalah kepariwisataan,
tinggal di Yogyakarta

Rabu, 11 Juni 2008

bantul | jogjakarta | indonesia

Dear blogger,..

Setelah hasil musyawarah dan mufakat dipilihlah penanggung jawab dari pariwisata02 ini untuk meriset dan mengembangkan domain2 yang ada ini Bantul Guide untuk mensukseskan program pariwisata Indonesia pada umumnya baik secara nasional maupun International serta mengangkat potensi wilayah tersebut agar lebih maju dan dikenal diseluruh dunia, karena banyak potensi2 yang saat ini belum tergali dan terekspose secara luas baik secara media maupun dunia maya sekalipun. Maka disinilah kami mengajak kepada para blogger untuk berpartisipasi mengangkat Bantul Guide untuk dapat eksistensi secara nasional maupun International rta indonesia